Ienn4's Blog

November 5, 2010

SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM

Filed under: MaKaLaH — ienn4 @ 6:48 am

2. SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM

Sumber-sumber yang dipakai acuan dalam istimbath hukum Islam adalah: Kitab (Al-Qur’an), As-sunnah (Al-hadits), Ijma’, Qiyas, Ijtihad, Qaul Shahabi, Istihsan dsb.

Terdapat beberapa masalah yang berkaitan dengan sumber-sumber hukum Islam di atas.

a.         Bahwa sumber-sumber hukum Islam di atas tidaklah menjadi kesepakatan para ulama. Tetapi ada sebagian yang diperselisihkan , baik dalam hal pengertiannya maupun dalam hal dijadikannya sebagai sumber hokum Islam.

b.        Bahwa sebagian dari sumber-sumber hokum Islam di atas ada yang bersifat naqli yaitu Al-Quran, As-sunnah, Ijma’, Qaul Shahabi. Dan ada juga yang bersifat Aqli yaitu Qiyas, Istihsan, Ijtihad

Dari pada itu, dalil-dalil naqli masih memerlukan akal untuk memahami dan mengambil hokum dari padanya. Begitu juga halnya dalil akal ia tidak diperlukan oleh syari’at kecuali jika ia bersandar kepada naqli. Karena akal saja tidak mampu mengetahui hokum-hukum syari’at (Syarmin S., 1993: 23).

2.1 Al-Qur’an

2.1.1 Pengertian Al-Qur’an

Mengenai asal kata “Al-Qur’an” para ulama berselisih pendapat. Menurut Asy-Syafi’i kata “ Al-Qur’an” utu ditulis dan dibaca tanpa hamzah (Al-Qur’an). Ia tidak berasal dari suatu kata, tetapi ia merupakan sebutan khusus bagi kitab suci yang diberikan kepada Muhammad SAW.

Menurut Al-Asy-‘ari, kata “ Al-Qur’an” diambil dari kata “qarana” yang berarti menggabungkan. Karena Al-Qur’an merupakan gabungan ayat-ayat dan surat-surat.

Menurut istilah, Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada rasul-Nya. Muhammad SAW dengan bahasa arab, yang diriwayatkan secara mutawatir dan tertulis dalam mushaf (Syarmin S., 1993: 27).

2.1.2 Nama-nama Al-Qur’an

Nama bagi al-Qur’an seperti yang disebutkannya sendiri bermacam-macam dan masing-masing nama itu mengandung arti makna tertentu, antara lain:

  1. Al-kitab artinya buku atau tulisan. Arti ini untuk mengingatkan kaum muslimin supaya membukukannya menjadi buku.
  2. Al-Qur’an artinya bacaan. Arti ini untuk mengingatkan supaya ia dipelihara/dihafal bacaannya diluar kepala.
  3. Al-Furqan artinya pemisah. Arti ini mengungatkan supaya dalam mencari garis pemisah antara kebenaran dan kebathilan, yang baik dan buruk haruslah daripadanya atau mempunyai rujukan padanya.
  4. Huda artinya petunjuk. Arti ini mengingatkan bahwa petunjuk tentang kebenaran hanyalah petunjuk yang diberikannya atau yang mempunyai rujukan kepadanya,
  5. Al-Zikr artinya ingat. Arti ini menunjukkan bahwa ia berisikan peringatan dan agar selalu diingat tuntunannya dalam melakukan setiap tindakan.

Dia adalah klamullah yang diturunkan kepada Nabi SAW. Dalam bahasa arab, riwayatnya mutawir. Oleh karena itu terjemahan Al-Qur’an tidak disebut Al-Qur’an dan orang yang mengingkarinya baik secara keseluruhan maupun bagian rinciannya, dipandang kafir ( Sulaiman A., 1995: 9)

Dia merupakan sendi fundamental dan rujukan pertama bagi semua dalil dan hukum syari’at, merupakan Undang-Undang Dasar, sumber dari segala sumber dan dasar dari semua dasar. Hal ini sudah merupakan kesepakatan seluruh Ulama Islam. Dan Al-Qur’anulkarim berfungsi sebagai pembeda untuk membedakan dan memilih antara yang benar dan yang salah, antara yang hak dan bathil ( Abdurrahman, 1993: 35).

2.1.3 Kekhususan dan Keistimewaan Al-Qur’an

Al-Qur’an mempunyai kekhususan dan keistimewaan dari kitab-kitab lainnya. Apabila ada sesuatu yang bertentangan dengan keistimewaan Al-Qur’an nanti, maka ia tidak bias dikategorikan sebagai Al-Qur’an. Kekhususan dan keistimewaan Al- Qur’an tersebut adalah sebagai berikut:

a.         Bahwa Al-Qur’an, baik kalimat dan maknanya, datang dari Allah SWT dan rasul SAW dalam hal ini tidak lain hanyalah menyampaikan saja kepada manusia. Ia diturunkan Allah melalui malaikat Jibril, dengan kalimat yang sama persis dengan yang ada sekarang ini. Oleh karena itu, tidak boleh kita meriwayatkan dengan maknanya. Artinya sama pengertiannya, tetapi kalimatnya berbeda. Sebab yang demikian, bukanlah Al-Qur’an namanya. Lantaran itu semua, maka Al-Qur’an berbeda dengan hadits baik hadits qudsi maupum hadits nabawi. Sebab, semua hadits yang dating dari Rasulullah SAW, baik lafadz maupun susunan kalimatnya yang disimpulkan dari berbagai makna yang diilhamkan dan diwahyukan Allah pada beliau. Lafadz dan makna Al-Qur’an dating dari Allah, sedangkan hadits maknanya dari Allah, tapi lafadznya dari Rasullullah SAW.

b.        Al-Qur’an diturunkan kepada rasulullah SAW dengan lafadz dan ushlub (gaya bahasa) bahasa arab. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya: “ sesungguhnya kami jadikan Al-Qur’an dalam bahasa arab supaya  kamu memahaminya”. (QS. Az-zhuhruf: 3)

Dan tidaklah tercela jika dalam kearaban Al-Qur’an terkandung sebagian lafadz-lafadz yang jarang adanya(asing), yang oleh sebagian ulama dipandang bukan bahasa arab tetapi hal ini tidaklah membuat cacatnya sebagai bahasa arab. Sepeti lafadz”   ” bagi lobang dan “     ” bagi singa. Sebab, lafadz-lafadz ini disamping jarang disebut juga telah dimasukkan bangsa arab kedalam bahasa arab dan bahasa bahasa tersebut diambil dari sebagian suku oleh sebagian suku arab lainnya.

c.         Bahwa Al-qur’an telah diriwayatkan dengan cara mutawatir yang memfaedahkan ilmu yang iath’I (pasti)dan yakin lantaran periwayatan dan ketetapannya yang sah.ia telah dipelihara dalam berbagai hati dan dada, bukan sekedar dalam mushhaf dan tulisan-tulisan saja. Ia telah dipindahkan kepada kaum muslimin diberbagai Negara dan berbagai bangsa, tanpa ada perbedaan dan keraguan diantara mereka dan tanpa ada perubahan dan pergantian (Syarmin S., 1993: 28-32).

Allah berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

2.1.4 Kemu’jizatan Al-Qur’an

Telah dijelaskan bahwa Al-Qur’an adalah datang dari Allah yang dapat melemahkan kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu ayat yang serupa dengannya.

Sesungguhnya mu’jizat Nabi SAW adalah Al-Qur’an, yaitu mu’jizat maknawi, bukan mu’jizat materi yang dapat di indra, seperti mu’jizat Nabi Isa yang dapat menyembuhkan buta dan penyakit sopak, nabi Musa yang dapat merubah tongkat menjadi ular berjalan. Sehingga  dengan demikian mu’jizat beliau tetap berlaku sampai akhir zaman, yang membawa bukti-bukti kebenaran akan kerasulan beliau sejak dahulu hingga hari kiamat nanti, yaitu sesuatu yang cocok dan sesuai dengan keumuman dan keabadian risalah. Meskipun ada juga mu’jizat Nabi SAW yang berupa sesuatu yang diindra, tetapi tidaklah dapat disaksikan kecuali orang-orang yang ada pada masa beliau yang turut menyaksikannya. Orang-orang yang ada sesudah masa beliau tidaklah mengetahui kecuali hanya mendengar saja. Maka itu bukti mu’jizat yang kekal. Yaitu mu’jizat yang selalu disaksikan manusia sampai hari kiamat.

Allah berfirman :

Artinya :”Dan orang-orang kafir mekkah berkata :’Mengapa tidak menurunkan  kepadanya mu’jizat-mu’jizat dari tuhannya ?” Katakanlah :’Sesungguhnya mu’jizat-mu’jizat iru terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”. (QS. Al Ankabut : 50)

(Syarmin S., 1993: 35-37).

2.1.5 Segi-Segi Kemu’jizatan Al-Qur’an

Berikut ini akan kami kemukakan sebagian segi-segi kemu’jizatan Al-Qur’an :

  1. kebalaghoan dan kefashahan Al-Qur’an amat tinggi. Ia menghimpun aturan-aturan yang menakjubkan dan mengandung makna-makna yang cukup tinggi serta makna yang sangat kuat dalam mempengaruhi jiwa. Mudah dihafal, ringan dibaca. Mengandung berbagai bentuk ungkapan menurut tempat dan keadaan. Oleh karena itu, ayat-ayat makiyah pendek-pendek, mengandung ajaran aqidah dan keimanan. Sedang ayat-ayat madaniyah umumnya panjang-panjang, yang menjelaskan berbagai hokum peraturan, keras dalam mempertakuti dan mengancam serta menyenangkan dalam mendorong untuk melaksanakan suatu perbuatan.
  2. hukum dan makna-maknanya teratur, saling merangkai satu sama lain. Oleh karena itu tidak ada pertentangan satu makna atas satu hokum dengan makna atau hokum yang lainnya atau satu ayat dengan ayat yang lain. Seandainya ia tidak datang dari Allah, pasti akan didapati pertentangan yang cukup banyak.
  3. Al-Qur’an memberitakan tentang peristiwa (kejadian) yang telah lalu pada kurun masa yang telah lewat.
  4. Al-Qur’an memberitakan perkara-perkara yang akan datang, seperti :

-          Al-Qur’an telah menjanjikan kemenangan kepada kaum Muslimin dalam perang badar Kubra.

-          Al-Qur’an menjajikan kepada kepada kaum Muslimin tentang terbukanya kota Mekkah

-          Al-Qur’an telah memberitakan tentang kehinaan yang akan menimpa kaum Yahudi pada segala zaman sampai datangnya hari Qiamat.

  1. Al-Qur’an mengandung berbagai rahasia alam dan hakekat ala mini, yang tidak henti-hentinya ilmu mengungkapkan kepada kita setiap hari dengan penemuan-penemuan baru yang membuktikan bahwa Al-Qur’an ini datang dari sisi Allah, yang meliputi ilmu segaa sesuatu.
  2. Al-Qur’an mengandung syari’at islam yang hokum-hukumnya mengatur berbagai hubungan manusia, yang merupakan aturan yang luas dan tegas, elastic dan cocok disegala tempat, untuk merealisir kemaslahatan dan kenaikan manusia.
  3. Al-Qur’an tetap dan kekal, terpelihara dan tidak pernah berubah, karena selalu dibaca baik dengan cara terang-terangan atau tersembunyi (Syarmin S., 1993: 38-50).

2.1.6 Petunjuk Al-Qur’an Kepada Maksudnya

Ada 4 prinsip dasar yang umum dalam memahami makna Al-Qur’an, yaitu:

a. Qur’an merupakan keseluruhan syari’at dan sendinya yang fundamental. Setiap orang yang ingin mencapai hakekat agama dan    dasar-dasar syari’at, haruslah menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat/ sumbuh tempat berputarnya semua dalil yang lain dan sunnah sebagai pembantu dalam memahaminya demikian juga pendapat imam-imam terdahulu dan salafushshalihin yang lalu.

b. Sebagaian besar ayat-ayat hukum turun karena ada sebab yang menghendaki penjelasannya. Ada dua alasan mengapa harus mengetahuinya:

1)      faktor untuk mengetahui kei’jazan Al-Qur’an itu bertumpu pada pengetahuan tentang tuntutan situasi, baik situasi pembicaraan orang yang berbicara maupun orang yang menjadi sasaran pembicaraan, baik secara alternative ataupun kumulatif sekaligus.

2)      kejahilan akan sebab-sebab nujul dapat menjerumuskan ke jurang keraguan dan menempatkan nash yang zhohir ke tempat ijmal, sehingga terjadilah perbedaan pendapat.

c. Setiap berita kejadian masa lalu yang diungkapkan Al-Qur’an, jika terjadi penolakannya baik sebelum atau sesudahnya, maka penolakan tersebut menunjukkan secara pasti bahwa isi berita itu sudah dibatalkan.

Diantara contohnya ialah ayat yang berbunyi:

Artinya: “ketika mereka mengatakan Allah tidak pernah menurunkan sesuatu kepada manusia”.

Kemudian diiringi oleh firman Allah:

Artinya: “ katakan kepada mereka siapakah yang menurunkan kitab yang dibawa oleh Musa untuk menjadi cahaya dan petunjuk bagi manusia”.

  1. Kebanyakan hukumhukum yang diberitahukan oleh Al-Qur’an bersifat kully ( pokokyang berdaya cukup luas) tidak rinci ( disebutkan setiap peristiwa, objektif) seperti terungkap dari penelitian. Oleh karena itu diperlukan penjelasan dari sunnah rosul karena memang kebanyakan sunnah merupakan penjelasan bagi Al-Qur’an (Sulaiman A., 1995: 14-19).

2.2 HADISTS

2.2.1 Pengertian Hadist

Menurut bahasa hadis memiliki beberapa arti, yaitu :

  1. Jadid yang berarti dekat.
  2. Khabar yang berarti berita atau warta.
  3. Qarib yang berarti dekat.

Dari ketiga makna hadists tersebut, yang memiliki makna paling dekat dengan hadists dalam islam adalah khabar. Menurut istilah , hadists juga memiliki beberapa makna yang berbeda yang disebabkan oleh perbedaan pandangan para ulama.

Menurut ahli hadist, hadists adalah semua yang datang dari Nabi saw yang berupa ucapan, perbuatan, ataupun taqrir beliau. Sedangkan menurut ahli ushul segala pekataan Rosul, perbuatan dan taqrir beliau, yang bisa bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i.

Berdasarkan pengertian hadists menurut ahli ushul, maka hadists dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

  1. hadists qouliyah : adalah hadists yang berupa perkataan
  2. hadists fi’liyah : adalah hadists yang berupa perbuatan
  3. hadists taqririyah : adalah ketetapan atau persetujuan rasulullah terhadap apa saja yang muncul dari tindakan sahabat beliau.

Sedangkan perkataan dan perkataan Nabi saw yang tidak termasuk hadists dapat dijadikan sebagai dalil/hukum, kecuali yang berkaitan dengan syariat dan merupakan petunjuk bagi umat beliau.

Berikut ini adalah perbuatan nabi saw yang tidak termasuk hadists.

  1. Segala yang timbul dari nabi saw karena didorong oleh tabiat kemanusiaannya atau kebiasaan kaumnya.
  2. Segala sesuatu yang berasal dari nabi saw karena keinginan beliau mencoba hal-hal duniawi.
  3. Segala yang telah ditunjukkan dalil bahwa itu adalah kekhususan rasulullah.

2.2.2 Meriwayatkan Hadists Dengan Makna

Meriwayatkan hadists berbeda dengan meriwayatkan Al-Qur’an, beberapa hadists dapat diriwayatkan dengan makna. Artinya meskipun sedikit berbeda pelafalan dan pengucapannya asalkan memiliki arti yang sama maka dihalalkan.

Disamping itu ada juga hadists yang bersifat taabudi (tidak boleh dirubah) dalam pelafalannya, seperti hadists tentang adzan, tasyahhud, dan sebagainya.

2.2.3 Kehujjahan Al-Hadists

Hadists adalah dalil kedua yang digunakan sebagai acuan beristimbat hukum syari’ah sesudah Al-Qur’an. Banyak dalil yang menegaskan kehujjahannya, diantaranya:

a.       Ayat-ayat Al-Qur’an yang  memerintahkan untuk taat kepada rasulullah.

Artinya : “taatlah kamu sekalian kepada Allah dan rasul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu…..”(An-nisa :59)


Artinya : “apa yang diberikan R asul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tingggalkanlah…..”(Al-Mujadilah : 13)

b.      Al-Qur’an sebagai undang-undang dasar bagi hukum wadhi’I yang menetapkan berbagai ketetapan secara global. Seperti firman Allah:

Artinya: “kerjakanlah shalat dan berikanlah zakat…”


Artinya: “telah diwajibkan atas kamu berpuasa…”

Hadist juga merupakan penjelasan daripada ketetapan-ketetapan Allah yang bersifat umum.

Al-Auzai berkata : “Al-Qur’an itu berhajat kepada hadists, dan hadists berhajat kepada Al-Qur’an.”

Sebagai contoh, Al-hadists Nabawiyah telah menjelaskan jumlah rekaatshalat, waktunya, syarat dan rukun-rukunnya, serta tata caranya.

c.       Al-Qur’an telah menetapkan bahwa perkataan rasul Allah saw hakekatnya datang dari sisi Allah juga. Allah berfirman :

Artinya : “dan tiadalah yang diucapkan (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain ada;lah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (Al-Najm : 3-4)

Itulah dalil-dalil yang menerangkan bahwa hadists datang dari sisi Allah dan wajib diamalkan.

Imam Syafi’i berkata : “apabila rasul menjelaskan ayat dalam Al-Qur’an, maka penjelasan itu sebenarnya datang dari Allah. Dan Allah menetapkan hukum dalam Al-Qur’an menurut penjelasan rasul-Nya. Orang islam tidak boleh keluar dari kitab (Al-Qur’an). Begitu juga tidak boleh keluar daripenjelasan yang dijelaskan oleh rasul-Nya. Sebab nash atau penjelasan itu datangnya dari Allah juga.

2.2.4 Kedudukan Hadists Dalam Beristidlal

Sebagai dasar hukum bagi kaum muslimin, kedudukan hadists berada di urutan kedua setelah Al-Qur’an, alasannya adalah :

  1. Bahwa Al-Qur’an adalah qoth’iyatus tsubut, sedangkan hadist dhoniyatus tsubut dalam banyak hal. Maka dalil qath’i harus didahulukan atas dalil dhonni
  2. Bahwa hadists adalah penjelasan Al-Qur’an, maka sudah seharusnya jika penjelasan ada dibelakang hal yang dijelaskan.
  3. Muadz bin Jabal telah meriwayatkan bahwa rasulullah saw ketika mengutusnya ke Yaman bertanya kepadanya. “apa yang kau perbuat jika dihadapkan pada suatu perkara?” Ia berkata, “aku putuskan dengan hukum yang ada dalam Al-Qur’an.” Nabi bertanya lagi, “jika tidak ada hukumnya dalam Al-Qur’an?” Ia menjawab, “maka akan aku putuskan berdasarkan sunah rasulullah.” Nabi beratanya lagi, “jika tidak ada hukumnya dalam As-sunnah?” Ia menjawab, “aku akan berijtihad dengan pendapatku.” Lalu Muadz berkata: “kemudian Rasulullah saw menepuk dadaku dan berkata, “segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik pada utusan rasulNya, demi keridhaan allah dan RasulNya.

2.2.5 Hubungan Antara Hukum Qur’aany Dan Hukum Sunniyah

Ada tiga macam hubungan antara hukum dalam hadists dan hukaum dalam al-quran.

a.       Hukum-hukum yang serasi atau sesuai dengan hukum yang ada dalam al-quran, dalam hal ini hadists hanya berfungsi sebagai penguat atas hukum yang sudah ada dalam al-quran.

b.      Hukum-hukum yang menjelaskan apa yang ada dalam al-quran, dengan cara:

1)      Memerinci yang mujmal, seperti seperti amaliya Rasulullah tentang tata cara shalat dan sebagainya.

2)      Mentakhsis atau memberi perincian bagi hukum yang umum.

2.3 Ijtihad

2.3.1 Pengertian Ijtihad

Menurut bahasa, ijtihad berarti Al-jahd atau al-juhd yang berarti la-masyaqat (kesulitan dan kesusahan) dan akth-thaqat (kesanggupan dan kemampuan).

kata Ijtihad “pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit.” Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata “ijtihad” dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan. Ijtihad adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah, dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang dan pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama Islam.

Di  sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah “penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u ‘l-Lah dan Sunnah Rasul, baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma’qul nash), atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari’ah- yang terkenal dengan “mashlahat.”

Dalam kaitan pengertian ijtihad menurut istilah, ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas- yang mengemukakan rumusan definisi. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas.

Menurut mereka, ijtihad adalah pengerahan segenap kesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara’ (hukum Islam).

2.3.2 Tujuan dan Fungsi Ijtihad

Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu. Supaya dalam mengembangkan operasionalisasi ajaran islam sesuai dengan dasar asasinya. Khususnya hal-hal yang berkaitan dengan hukum, sehingga tidak selalu menggantungkan diri pada sabda Nabi saw yang ternyata tidak ditemukan, padahal situasi dan kondisi yang terus berubah menuntut sikap yang berbeda pula, supaya bisa mengistinbathkan hukum-hukum secara baik dan benar sesuai dengan yang dikehendaki oleh Syari’i itu sendiri dan agar hukum-hukum hasil istinbath itu tidak bersifat statis sehingga hasilnya selalu aktual  dan dapat diamalkan sesuai dengan perkembangan zaman yang selalu menuntutnya.

Ijtihad berfungsi sebagai salah satu alat penentu hukum segala persoalan baru karena adanya perubahan yang terus bergulir, sebagai sumber modernisasi hukum dalam islam sebagai pengejawentahan Islam rahmatan lil ‘alamin, sebagai salah satu system berfikir ilmiah yang islami, sebagai salah satu penopang budi daya kreativitas manusia. Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detil oleh Al Quran maupun Al Hadist. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalam melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari. Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist. Sekiranya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist, pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist.

Seperti itulah fungsi ijtihad sebagai salah satu alat penggerak, sebab tanpa ijtihad sumber hukum islam akan menjadi stagnan dan statis. Maka dengan menempatkan ijtihad pada posisi yang sebenarnya, hukum islam akan tetap memancarkan sinar kemanfaatannya yang tak akan bisa ditemui pada aturan hukum keagamaan lainnya.

2.3.3 Klasifikasi Ijtihad

a.       Al-Ijtihad al-Bayaniy yaitu menjelaskan hukum syara’ yang berdasarkan kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits dalam suatu perkara yang terjadi. Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati. Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.

b.      Al-Ijtihad al-Qiyasi yaitu menggali hukum syara’ karena adanya suatu kasus baru yang kepastian ketentuan hukumnya tidak ada dalam nash. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teori qiyas/analogis. Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalah sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. Dalam Islam, Qiyas sifatnya darurat, bila memang terdapat hal hal yang ternyata belum ditetapkan pada masa-masa sebelumnya

c.       Al-Ijtihad al-Istishlahy, beberapa definisinya adalah fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih) hanya karena dia merasa hal itu adalah benar, argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya, mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk maslahat orang banyak, tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan dan tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada sebelumnya.

2.3.4 Objek Ijtihad

Objek ijtihad adalah hukum syara’ yang bersifat ‘amaliyah yang tidak ditemukan nash qath’i (al-Qur’an dan Hadits) di dalamnya (al-hukmu asy-syar’iy al-’amaly laisa fihi dalilun qath’iy). Terlepas masalah itu bersifat ‘Ubudiyah , Furuiyyah atau Ta’aqqudiyah selagi tidak adanya nash qath’iyud dilalah (yang benar-benar menunjukkan pada status dalam syara’)  maka itu adalah medan lahan seorang mujtahid dengan berbagai penguasaan disiplin ilmu guna menghasilkan natijah ijtihad yang diharapkan benar sesuai dengan Syaari’.

2.4 I J M A ’

2.4.1 Definisi Ijma’

Menurut bahasa, ijma’ mempunyai dua arti, yaitu :

a.       Kesepakatan

b.      Kebulatan tekad atau niat.

Dari memperhatikan definisi diatas, maka fahamlah kita bahwa tidak dinamakan ijma’ jika tidak terdapat padanya. Unsur-unsur berikut ini:

a.       Kesepakatan para mujtahid.

b.      Ijma’ harus merupakan hasil kesepakatan seluruh mujtahid

c.       Hendaknya kesepakatan itu berasal dari seluruh kesepakatan mujtahid yang ada pada masa terjadinya masalah fiqhiyah dan pembahasan hukumnya itu

d.      Kesepakan para mujtahid itu hendaknya harus terjadi sesudah wafat rosulullah saw.

e.       Kesepakan itu hendaknya dinyatakan masing-masing mujtahid dengan terang dan tegas pada suatu waktu.

f.       Hendaknya kesepakan para mujtahid diatas satu pendapat itu, benar-benar sepakat lahir dan batin, bukan formalnya saja. Betul-betul terjadi kebulatan pendapat atau suatu hukum.

2.4.2 Ijma’ Mayoritas

Jumhur ulama berpendapat bahwa ijma’ tidak terjadi, jika kessepakatan itu oleh mayoritas mujtahid saja, tetapi suara minoritasnya menantang. Hal ini disebabkan karena dalil-dalil yang kuat bagi kehujjan ijma’ adalah untukmemelihara ummat seluruhnya, bukan untuk sebagian besarnya saja.

Ibnu jarir ath-Thabariy, abu bakar ar-razi, abul husain al-khayyatiy dari kalangan ulama mu’tazilah dan ahmad bin hambal dalam salah satu riwayatnya berpendapat bahwa ijma’ dapat terjadi dengan suara mayoritas dapat dijadikan hujah, tetapi tidak dinamakan ijma’.

2.4.3 Ijma Mujtahid Madinah

Imam malik menganggap ijma’ terhadap kesepakatan para mujtahid madinah dari kalangan sahabat saja.  Berdasarkan hadis Rosulullah saw:

Artinya: “sesungguhnya (mujtahid) madinah itu seperti dapur tukang besi, yang dapat menghilangkan kotoran dan karatnya.

Hadis ini menurut beliau menunjukkan bahwa pendapat mujtahid benar tidak mengandung kesalahan. Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak bisa terjadi ijma’ dengan kesepakatan mujahid Madinah saja. Sebab mereka adalah seperti mujtahid-mujtahid dari kota islam lainnya. Sedangkan hadist diatas, hanya menunjukkan keberkatan madinah, tidak menunjukkan kemaksuman penduduknya.

2.4.4 Ijma’ Ahlul Bait

Ahlul Bait adalah semua orang yang mempunyai hubungan kerabat dengan nabi saw.

Ulama syi’ah berpendapat bahwa ijma’ dapat terjadi dengan adanya kesepakatan keluarga nabi saw. Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak bisa terjadi ijma’ dengan kesepakatan ahli bait saja. Sebab, mereka tidaklah terpelihara dari kesalahan.

2.4.5 Ijma’ Sukuti

Ijma’ dimana masing-masing mujtahid yang berkumpul menyatakan pendapatnya dengan terang dan jelas di sebut ijma’ sharih (ijma’ secara terang-terangan), karena masing-masing mujtahid mengemukakan pendapatnya dengan terang. Ijma’ demikianlah yang diakui kebenarannya oleh jumhur ulama

2.4.6 Ijma’ Murakkab

Jumhur ulama menyatakan bahwa dalil ijthiad pada suatu masa apabila mereka terbagi menjadi dua golongan besar dalam masalah hukum islam, dimana masing-masingnya mempunyai pendapat yang berbeda satu sama lain. Maka, bagi orang yang datang sesudahnya tidak boleh mendatangkan hukum baru yang merupakan hasil ijtihadnya, yang bertentanggan dengan pendapat kedua golongan yang mendahuluinya.

2.4.7 Kemungkinan Terjadinya Ijma’

Ulama Mu’tazilah dan Syiah berpendapat bahwa ijma’ dalam bentuk yang dikemukakan oleh jumhur ulama, tidak mungkin terjadi secara adat kebiasaan. Alasan mereka adalah sebagai berikut:

a.       Bahwa untuk mengetahui kriteria mujtahid adalah sangat sulit. Sebab, tidak adanya ukuran yang di sepakati untuk membedakan antara mujtahid dan yang bukan mujtahid.

b.      Bahwa para mujtahid berserakan tempatnya di berbagai negara dan benua yang berjauhan.

c.       Bahwa ijma’ tidak diperlukan kecuali jika, tidak ada dalil qath’i. artinya bahwa ijma’ itu tidak ada melainkan dari dalil yang dhoni.

Jumhur ulama berpendapat bahwa ijma’ itu mungkin terwujud dan terjadinya, dengan alasan bahwa hal itu secara realiatas pernah terjadi.

2.4.8 Kehujjahan ijma’

Jumhur ulama berpendapat bahwa ijma’ adalah merupakan hujjah yang wajib diamalkan. Semntara itu An Nadhdham. Sebagian ulama Khawarid dan Syi’ah tidak mengakui kehujjahannya.

Dalil-dalil yang mndukung pndapat jumhur adalah:

firman ALLAH :

Artinya: dan barang siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah di kuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam….”(An-Nisa’ : 115)

2.4.9 Menyandarkan Ijma’ Kepada Qiyas Atau Kepada Maslahat

Para ulama berselisih pendapat tentang bolehnya menyandarkan ijma’ kepada qiyas. Sebagian mereka berpendapat bahwa tidak ada kemaslahatan sama sekali menyandarkan ijma’ kepada qiyas sebab, kehujjahan qiyas tidak disepakati para ulama.

Sebagian ulama telah mengemukakan sebagian contoh ijma’ yang ditegakkan diatas masalahah mursalah, yaitu ijma’ sahabat tentang pengumpulan al-Quran dalam satu mushaf, sesudah Abu Bakar meragukan hal itu.

Dari memperhatikan keterangan diatas maka dapat difahamkan bahwa kesepakatan mereka menghimpun al-Quran adalah berdasarkan masalahat yang telah dijelaskan oleh Umar ra.

2.4.10 Penaskhan Ijma’

Apabila terjadi ijma’ pada suatu masa, maka tidak boleh di batalkan dan dihapus oleh orang-orang yang telah berijma’ kepadanya itu sebab ijma’ mereka yang pertama menjadi hujjah syariah qath’iah, yang wajib mereka amalkan. Dan sebaliknya, tidak boleh mereka langgar.

Pendapat ulama bahwa ijma’ itu terjadi karena suatu kesepakatan para mujtahid dalam masa hidup mereka, bukan ketika mereka sudah mati, namun sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa boleh para mujtahid membetulkan pendapatnya yang telah lalu, jika menurut mereka pendapatnya yang lalu itu terdapat kesalahan.

Dan telah jelas pndapat yang tidak membolehkan perubahan hukum yang telah di ijma’I adalah jika ijma’ itu disandarkan kepada kitab al-Quran, sunnah dan qiyas.

2.5 QIYAS

2.5.1 Pengetian Qiyas

Menurut bahasa, Qiyas berarti ” Menyamakan ” sedangkan menurut istilah arti ushul, Qiyas adalah menyamakan hukum dengan perkara lain yang sudah ditetapkan oleh nash.

Qiyas ,sebagaimana yang diamalkan oleh para mujahid adalah mengubungkan hukum suatu perkara dengan hukum perkara yang sudah ditetapkan. sebernarnya pengertian Qiyas syar’i diatas di ambil dan pengertian bahasanya.

Perbedaan di antara dua definisi diatas adalah :

  1. Qiyas pertama merupakan hujj’ah kohiyah yang datang dari sisi Allah SWT untuk mengatahui hukum – hukum yang bukan merupakan yang didatangkan bagi seseorang ( Sulamasul wusul juz IV hal ,2 )
  2. Qiyas yang kedua , ini menegaskan makna Qiyas secara majazi yang merupakan amalan para mujahid. yang di tegaskan untuk mengistimnathkan hukum syara’.

Bedasarkan keterangan diatas maka sebgaian ulama mengatakn bahwa Qiyas itu adalah mengeluarkan hukunl bukan menetapkan hukum.

2.5.2 Rukun – Rukun Qiyas

Dari pengertian difinisi Qiyas di atas, makadapat diartikan Qiyas itu harus terdiri dari empat perkara, yang sekaligus merupakan hukum – hukumnya.

  1. Perkara yang di pakau perbandingan ( persarnaan) yang di sebut ashal (perkara pokok yang terdapat hukumnya dalam nash)
  2. Perkara yang hendak dibandingkan (disamakan) yang disebut furu’ (perkara yang belum ada hukumnya dalam nash.)
  3. Hukum ashat yang hendak menjelaskan persamaan anatara Furu’ perkara Ashal.
  4. Illat yang dipakai dasar penetapan hukum pada perkara ashal dan menyadarkan Furu’ padanya, yang disebut jami’ (Letak persamaan).

Contoh kongkritnya : Allah SWT mengaramkan Khomer dalam Al Qur’an, meufut madzab Hanafi kliomer adaiah perasaan anggur yang dimasak ,tapi sampai lama ,sehingga keluar buihnya.

Ayat – ayat Al Qur’an

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk.perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”.

“Nabidz” bukanlah anggur, baik dari jenis korma atau gandum dan sebagainya. Memperhatikan ayat di atas, maka nabidz ada ketentuannya tentang halal dan haramnya. Tetapi para ahli ijtihad menghukumi haram dengan cara mengqiyaskan kepada khamer, karena adanya persamaan illat yang ada pada keduanya, yaitu memabukkan.

2.5.3 Dalil – Dalil Kehijjatan Qiyas

  1. Bahwa Syari’at islam datang untuk mengatur kehidupan manusia memelihara hubungan mereka secara khusus maupun yang umum di antara individu masyarakat.
  2. Bahwa Al Qur’an telah mempergunakan Qiyas dalam mencakumkan dan menetapkan hujjah serta menjelaskan berbagai hukum dan menetapkan jika sama ,dan menghilangkan jika berbeda.
  3. Bahwa Al Qur’an telah banyak menyuruh manusia untuk mengambil pelajaran berbagai peristiwa.

2.5.4 Keraguan – Raguan Penolakan Qiyas

An – nadhdham dari Mu’tazilali, Ahluldh – Dhahir dan golongan umat syari’ah berpendapat bahwa Qiyas tidaklah termasuk hujjah dalam syari’at islam. Dasar mereka adalah :

  1. Bahwa Qiyas dalam syari’at doperluakan sebab tidak ada tempat padanya. ini tercantum daiam ayat Al Qur’an

Artinya : “ Dia-lah dzat yang menciptakan apa saja yang ada di bumi, untuk kamu.”

Dalam ayat ini tidak  ada tempat bagi qiyas.

Pendapat yang menyatakan bahwa nash-nash Al_qur’an tidak mendatngkan hokum setiap perkara adalah pendapat yang bertentangan dengan firman Allah.

  1. Bahwa Qiyas ditegakkan diatas dhon pada kejelasan Illat hukum, maka ditetapkan hukum yang dhoni yang artinya tidak berguna sama sekaii.
  2. Bahwa para sahabat mengingkari Qiyas dalam syari’at Islam.
  3. Bahwa Qiyas mengakibatkan perselisihan antara mujahid.

2.5.5 Syarat – syarat Qiyas

  1. Syarat Qiyas Ashat yang ditetapkan oleh Al Qur’an ,seperti keharaman khomer.
  2. Syarat Furu’
  3. Syarat Illat

2.5.6 Tempat belakunya Qiyas

Sebagaian ulama ,diantaranya Imam Asg – Syafi’I berpendapat bahwa Qiyas berlaku pada semua hukum Syari’at terkecuali masalah ibadah karena tidak sah menciptakan ibadah dengan cara menqiyaskan pada ibadah yang sudah ada ketetapannya.

DAFTAR PUSTAKA

Syukur, Syarmin. 1993. Sumber-sumber Hukum Islam. Surabaya: “AL-IKHLAS”

Abdullah, Sulaiman. 1995. Sumber Hukum Islam. Jakarta: Sinar Grafika.

I.Doi, Abdur Rahman. 1993. Shari’ah Kodifikasi Hukum Islam. Jakarta: Rineka   Cipta.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: