Ienn4's Blog

November 5, 2010

SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM

Filed under: MaKaLaH — ienn4 @ 6:48 am

2. SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM

Sumber-sumber yang dipakai acuan dalam istimbath hukum Islam adalah: Kitab (Al-Qur’an), As-sunnah (Al-hadits), Ijma’, Qiyas, Ijtihad, Qaul Shahabi, Istihsan dsb.

Terdapat beberapa masalah yang berkaitan dengan sumber-sumber hukum Islam di atas.

a.         Bahwa sumber-sumber hukum Islam di atas tidaklah menjadi kesepakatan para ulama. Tetapi ada sebagian yang diperselisihkan , baik dalam hal pengertiannya maupun dalam hal dijadikannya sebagai sumber hokum Islam.

b.        Bahwa sebagian dari sumber-sumber hokum Islam di atas ada yang bersifat naqli yaitu Al-Quran, As-sunnah, Ijma’, Qaul Shahabi. Dan ada juga yang bersifat Aqli yaitu Qiyas, Istihsan, Ijtihad

Dari pada itu, dalil-dalil naqli masih memerlukan akal untuk memahami dan mengambil hokum dari padanya. Begitu juga halnya dalil akal ia tidak diperlukan oleh syari’at kecuali jika ia bersandar kepada naqli. Karena akal saja tidak mampu mengetahui hokum-hukum syari’at (Syarmin S., 1993: 23).

2.1 Al-Qur’an

2.1.1 Pengertian Al-Qur’an

Mengenai asal kata “Al-Qur’an” para ulama berselisih pendapat. Menurut Asy-Syafi’i kata “ Al-Qur’an” utu ditulis dan dibaca tanpa hamzah (Al-Qur’an). Ia tidak berasal dari suatu kata, tetapi ia merupakan sebutan khusus bagi kitab suci yang diberikan kepada Muhammad SAW.

Menurut Al-Asy-‘ari, kata “ Al-Qur’an” diambil dari kata “qarana” yang berarti menggabungkan. Karena Al-Qur’an merupakan gabungan ayat-ayat dan surat-surat.

Menurut istilah, Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada rasul-Nya. Muhammad SAW dengan bahasa arab, yang diriwayatkan secara mutawatir dan tertulis dalam mushaf (Syarmin S., 1993: 27).

2.1.2 Nama-nama Al-Qur’an

Nama bagi al-Qur’an seperti yang disebutkannya sendiri bermacam-macam dan masing-masing nama itu mengandung arti makna tertentu, antara lain:

  1. Al-kitab artinya buku atau tulisan. Arti ini untuk mengingatkan kaum muslimin supaya membukukannya menjadi buku.
  2. Al-Qur’an artinya bacaan. Arti ini untuk mengingatkan supaya ia dipelihara/dihafal bacaannya diluar kepala.
  3. Al-Furqan artinya pemisah. Arti ini mengungatkan supaya dalam mencari garis pemisah antara kebenaran dan kebathilan, yang baik dan buruk haruslah daripadanya atau mempunyai rujukan padanya.
  4. Huda artinya petunjuk. Arti ini mengingatkan bahwa petunjuk tentang kebenaran hanyalah petunjuk yang diberikannya atau yang mempunyai rujukan kepadanya,
  5. Al-Zikr artinya ingat. Arti ini menunjukkan bahwa ia berisikan peringatan dan agar selalu diingat tuntunannya dalam melakukan setiap tindakan.

Dia adalah klamullah yang diturunkan kepada Nabi SAW. Dalam bahasa arab, riwayatnya mutawir. Oleh karena itu terjemahan Al-Qur’an tidak disebut Al-Qur’an dan orang yang mengingkarinya baik secara keseluruhan maupun bagian rinciannya, dipandang kafir ( Sulaiman A., 1995: 9)

Dia merupakan sendi fundamental dan rujukan pertama bagi semua dalil dan hukum syari’at, merupakan Undang-Undang Dasar, sumber dari segala sumber dan dasar dari semua dasar. Hal ini sudah merupakan kesepakatan seluruh Ulama Islam. Dan Al-Qur’anulkarim berfungsi sebagai pembeda untuk membedakan dan memilih antara yang benar dan yang salah, antara yang hak dan bathil ( Abdurrahman, 1993: 35).

2.1.3 Kekhususan dan Keistimewaan Al-Qur’an

Al-Qur’an mempunyai kekhususan dan keistimewaan dari kitab-kitab lainnya. Apabila ada sesuatu yang bertentangan dengan keistimewaan Al-Qur’an nanti, maka ia tidak bias dikategorikan sebagai Al-Qur’an. Kekhususan dan keistimewaan Al- Qur’an tersebut adalah sebagai berikut:

a.         Bahwa Al-Qur’an, baik kalimat dan maknanya, datang dari Allah SWT dan rasul SAW dalam hal ini tidak lain hanyalah menyampaikan saja kepada manusia. Ia diturunkan Allah melalui malaikat Jibril, dengan kalimat yang sama persis dengan yang ada sekarang ini. Oleh karena itu, tidak boleh kita meriwayatkan dengan maknanya. Artinya sama pengertiannya, tetapi kalimatnya berbeda. Sebab yang demikian, bukanlah Al-Qur’an namanya. Lantaran itu semua, maka Al-Qur’an berbeda dengan hadits baik hadits qudsi maupum hadits nabawi. Sebab, semua hadits yang dating dari Rasulullah SAW, baik lafadz maupun susunan kalimatnya yang disimpulkan dari berbagai makna yang diilhamkan dan diwahyukan Allah pada beliau. Lafadz dan makna Al-Qur’an dating dari Allah, sedangkan hadits maknanya dari Allah, tapi lafadznya dari Rasullullah SAW.

b.        Al-Qur’an diturunkan kepada rasulullah SAW dengan lafadz dan ushlub (gaya bahasa) bahasa arab. Dalam hal ini Allah berfirman:

Artinya: “ sesungguhnya kami jadikan Al-Qur’an dalam bahasa arab supaya  kamu memahaminya”. (QS. Az-zhuhruf: 3)

Dan tidaklah tercela jika dalam kearaban Al-Qur’an terkandung sebagian lafadz-lafadz yang jarang adanya(asing), yang oleh sebagian ulama dipandang bukan bahasa arab tetapi hal ini tidaklah membuat cacatnya sebagai bahasa arab. Sepeti lafadz”   ” bagi lobang dan “     ” bagi singa. Sebab, lafadz-lafadz ini disamping jarang disebut juga telah dimasukkan bangsa arab kedalam bahasa arab dan bahasa bahasa tersebut diambil dari sebagian suku oleh sebagian suku arab lainnya.

c.         Bahwa Al-qur’an telah diriwayatkan dengan cara mutawatir yang memfaedahkan ilmu yang iath’I (pasti)dan yakin lantaran periwayatan dan ketetapannya yang sah.ia telah dipelihara dalam berbagai hati dan dada, bukan sekedar dalam mushhaf dan tulisan-tulisan saja. Ia telah dipindahkan kepada kaum muslimin diberbagai Negara dan berbagai bangsa, tanpa ada perbedaan dan keraguan diantara mereka dan tanpa ada perubahan dan pergantian (Syarmin S., 1993: 28-32).

Allah berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

2.1.4 Kemu’jizatan Al-Qur’an

Telah dijelaskan bahwa Al-Qur’an adalah datang dari Allah yang dapat melemahkan kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu ayat yang serupa dengannya.

Sesungguhnya mu’jizat Nabi SAW adalah Al-Qur’an, yaitu mu’jizat maknawi, bukan mu’jizat materi yang dapat di indra, seperti mu’jizat Nabi Isa yang dapat menyembuhkan buta dan penyakit sopak, nabi Musa yang dapat merubah tongkat menjadi ular berjalan. Sehingga  dengan demikian mu’jizat beliau tetap berlaku sampai akhir zaman, yang membawa bukti-bukti kebenaran akan kerasulan beliau sejak dahulu hingga hari kiamat nanti, yaitu sesuatu yang cocok dan sesuai dengan keumuman dan keabadian risalah. Meskipun ada juga mu’jizat Nabi SAW yang berupa sesuatu yang diindra, tetapi tidaklah dapat disaksikan kecuali orang-orang yang ada pada masa beliau yang turut menyaksikannya. Orang-orang yang ada sesudah masa beliau tidaklah mengetahui kecuali hanya mendengar saja. Maka itu bukti mu’jizat yang kekal. Yaitu mu’jizat yang selalu disaksikan manusia sampai hari kiamat.

Allah berfirman :

Artinya :”Dan orang-orang kafir mekkah berkata :’Mengapa tidak menurunkan  kepadanya mu’jizat-mu’jizat dari tuhannya ?” Katakanlah :’Sesungguhnya mu’jizat-mu’jizat iru terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”. (QS. Al Ankabut : 50)

(Syarmin S., 1993: 35-37).

2.1.5 Segi-Segi Kemu’jizatan Al-Qur’an

Berikut ini akan kami kemukakan sebagian segi-segi kemu’jizatan Al-Qur’an :

  1. kebalaghoan dan kefashahan Al-Qur’an amat tinggi. Ia menghimpun aturan-aturan yang menakjubkan dan mengandung makna-makna yang cukup tinggi serta makna yang sangat kuat dalam mempengaruhi jiwa. Mudah dihafal, ringan dibaca. Mengandung berbagai bentuk ungkapan menurut tempat dan keadaan. Oleh karena itu, ayat-ayat makiyah pendek-pendek, mengandung ajaran aqidah dan keimanan. Sedang ayat-ayat madaniyah umumnya panjang-panjang, yang menjelaskan berbagai hokum peraturan, keras dalam mempertakuti dan mengancam serta menyenangkan dalam mendorong untuk melaksanakan suatu perbuatan.
  2. hukum dan makna-maknanya teratur, saling merangkai satu sama lain. Oleh karena itu tidak ada pertentangan satu makna atas satu hokum dengan makna atau hokum yang lainnya atau satu ayat dengan ayat yang lain. Seandainya ia tidak datang dari Allah, pasti akan didapati pertentangan yang cukup banyak.
  3. Al-Qur’an memberitakan tentang peristiwa (kejadian) yang telah lalu pada kurun masa yang telah lewat.
  4. Al-Qur’an memberitakan perkara-perkara yang akan datang, seperti :

–          Al-Qur’an telah menjanjikan kemenangan kepada kaum Muslimin dalam perang badar Kubra.

–          Al-Qur’an menjajikan kepada kepada kaum Muslimin tentang terbukanya kota Mekkah

–          Al-Qur’an telah memberitakan tentang kehinaan yang akan menimpa kaum Yahudi pada segala zaman sampai datangnya hari Qiamat.

  1. Al-Qur’an mengandung berbagai rahasia alam dan hakekat ala mini, yang tidak henti-hentinya ilmu mengungkapkan kepada kita setiap hari dengan penemuan-penemuan baru yang membuktikan bahwa Al-Qur’an ini datang dari sisi Allah, yang meliputi ilmu segaa sesuatu.
  2. Al-Qur’an mengandung syari’at islam yang hokum-hukumnya mengatur berbagai hubungan manusia, yang merupakan aturan yang luas dan tegas, elastic dan cocok disegala tempat, untuk merealisir kemaslahatan dan kenaikan manusia.
  3. Al-Qur’an tetap dan kekal, terpelihara dan tidak pernah berubah, karena selalu dibaca baik dengan cara terang-terangan atau tersembunyi (Syarmin S., 1993: 38-50).

2.1.6 Petunjuk Al-Qur’an Kepada Maksudnya

Ada 4 prinsip dasar yang umum dalam memahami makna Al-Qur’an, yaitu:

a. Qur’an merupakan keseluruhan syari’at dan sendinya yang fundamental. Setiap orang yang ingin mencapai hakekat agama dan    dasar-dasar syari’at, haruslah menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat/ sumbuh tempat berputarnya semua dalil yang lain dan sunnah sebagai pembantu dalam memahaminya demikian juga pendapat imam-imam terdahulu dan salafushshalihin yang lalu.

b. Sebagaian besar ayat-ayat hukum turun karena ada sebab yang menghendaki penjelasannya. Ada dua alasan mengapa harus mengetahuinya:

1)      faktor untuk mengetahui kei’jazan Al-Qur’an itu bertumpu pada pengetahuan tentang tuntutan situasi, baik situasi pembicaraan orang yang berbicara maupun orang yang menjadi sasaran pembicaraan, baik secara alternative ataupun kumulatif sekaligus.

2)      kejahilan akan sebab-sebab nujul dapat menjerumuskan ke jurang keraguan dan menempatkan nash yang zhohir ke tempat ijmal, sehingga terjadilah perbedaan pendapat.

c. Setiap berita kejadian masa lalu yang diungkapkan Al-Qur’an, jika terjadi penolakannya baik sebelum atau sesudahnya, maka penolakan tersebut menunjukkan secara pasti bahwa isi berita itu sudah dibatalkan.

Diantara contohnya ialah ayat yang berbunyi:

Artinya: “ketika mereka mengatakan Allah tidak pernah menurunkan sesuatu kepada manusia”.

Kemudian diiringi oleh firman Allah:

Artinya: “ katakan kepada mereka siapakah yang menurunkan kitab yang dibawa oleh Musa untuk menjadi cahaya dan petunjuk bagi manusia”.

  1. Kebanyakan hukumhukum yang diberitahukan oleh Al-Qur’an bersifat kully ( pokokyang berdaya cukup luas) tidak rinci ( disebutkan setiap peristiwa, objektif) seperti terungkap dari penelitian. Oleh karena itu diperlukan penjelasan dari sunnah rosul karena memang kebanyakan sunnah merupakan penjelasan bagi Al-Qur’an (Sulaiman A., 1995: 14-19).

2.2 HADISTS

2.2.1 Pengertian Hadist

Menurut bahasa hadis memiliki beberapa arti, yaitu :

  1. Jadid yang berarti dekat.
  2. Khabar yang berarti berita atau warta.
  3. Qarib yang berarti dekat.

Dari ketiga makna hadists tersebut, yang memiliki makna paling dekat dengan hadists dalam islam adalah khabar. Menurut istilah , hadists juga memiliki beberapa makna yang berbeda yang disebabkan oleh perbedaan pandangan para ulama.

Menurut ahli hadist, hadists adalah semua yang datang dari Nabi saw yang berupa ucapan, perbuatan, ataupun taqrir beliau. Sedangkan menurut ahli ushul segala pekataan Rosul, perbuatan dan taqrir beliau, yang bisa bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i.

Berdasarkan pengertian hadists menurut ahli ushul, maka hadists dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

  1. hadists qouliyah : adalah hadists yang berupa perkataan
  2. hadists fi’liyah : adalah hadists yang berupa perbuatan
  3. hadists taqririyah : adalah ketetapan atau persetujuan rasulullah terhadap apa saja yang muncul dari tindakan sahabat beliau.

Sedangkan perkataan dan perkataan Nabi saw yang tidak termasuk hadists dapat dijadikan sebagai dalil/hukum, kecuali yang berkaitan dengan syariat dan merupakan petunjuk bagi umat beliau.

Berikut ini adalah perbuatan nabi saw yang tidak termasuk hadists.

  1. Segala yang timbul dari nabi saw karena didorong oleh tabiat kemanusiaannya atau kebiasaan kaumnya.
  2. Segala sesuatu yang berasal dari nabi saw karena keinginan beliau mencoba hal-hal duniawi.
  3. Segala yang telah ditunjukkan dalil bahwa itu adalah kekhususan rasulullah.

2.2.2 Meriwayatkan Hadists Dengan Makna

Meriwayatkan hadists berbeda dengan meriwayatkan Al-Qur’an, beberapa hadists dapat diriwayatkan dengan makna. Artinya meskipun sedikit berbeda pelafalan dan pengucapannya asalkan memiliki arti yang sama maka dihalalkan.

Disamping itu ada juga hadists yang bersifat taabudi (tidak boleh dirubah) dalam pelafalannya, seperti hadists tentang adzan, tasyahhud, dan sebagainya.

2.2.3 Kehujjahan Al-Hadists

Hadists adalah dalil kedua yang digunakan sebagai acuan beristimbat hukum syari’ah sesudah Al-Qur’an. Banyak dalil yang menegaskan kehujjahannya, diantaranya:

a.       Ayat-ayat Al-Qur’an yang  memerintahkan untuk taat kepada rasulullah.

Artinya : “taatlah kamu sekalian kepada Allah dan rasul(Nya) dan Ulil Amri diantara kamu…..”(An-nisa :59)


Artinya : “apa yang diberikan R asul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tingggalkanlah…..”(Al-Mujadilah : 13)

b.      Al-Qur’an sebagai undang-undang dasar bagi hukum wadhi’I yang menetapkan berbagai ketetapan secara global. Seperti firman Allah:

Artinya: “kerjakanlah shalat dan berikanlah zakat…”


Artinya: “telah diwajibkan atas kamu berpuasa…”

Hadist juga merupakan penjelasan daripada ketetapan-ketetapan Allah yang bersifat umum.

Al-Auzai berkata : “Al-Qur’an itu berhajat kepada hadists, dan hadists berhajat kepada Al-Qur’an.”

Sebagai contoh, Al-hadists Nabawiyah telah menjelaskan jumlah rekaatshalat, waktunya, syarat dan rukun-rukunnya, serta tata caranya.

c.       Al-Qur’an telah menetapkan bahwa perkataan rasul Allah saw hakekatnya datang dari sisi Allah juga. Allah berfirman :

Artinya : “dan tiadalah yang diucapkan (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain ada;lah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (Al-Najm : 3-4)

Itulah dalil-dalil yang menerangkan bahwa hadists datang dari sisi Allah dan wajib diamalkan.

Imam Syafi’i berkata : “apabila rasul menjelaskan ayat dalam Al-Qur’an, maka penjelasan itu sebenarnya datang dari Allah. Dan Allah menetapkan hukum dalam Al-Qur’an menurut penjelasan rasul-Nya. Orang islam tidak boleh keluar dari kitab (Al-Qur’an). Begitu juga tidak boleh keluar daripenjelasan yang dijelaskan oleh rasul-Nya. Sebab nash atau penjelasan itu datangnya dari Allah juga.

2.2.4 Kedudukan Hadists Dalam Beristidlal

Sebagai dasar hukum bagi kaum muslimin, kedudukan hadists berada di urutan kedua setelah Al-Qur’an, alasannya adalah :

  1. Bahwa Al-Qur’an adalah qoth’iyatus tsubut, sedangkan hadist dhoniyatus tsubut dalam banyak hal. Maka dalil qath’i harus didahulukan atas dalil dhonni
  2. Bahwa hadists adalah penjelasan Al-Qur’an, maka sudah seharusnya jika penjelasan ada dibelakang hal yang dijelaskan.
  3. Muadz bin Jabal telah meriwayatkan bahwa rasulullah saw ketika mengutusnya ke Yaman bertanya kepadanya. “apa yang kau perbuat jika dihadapkan pada suatu perkara?” Ia berkata, “aku putuskan dengan hukum yang ada dalam Al-Qur’an.” Nabi bertanya lagi, “jika tidak ada hukumnya dalam Al-Qur’an?” Ia menjawab, “maka akan aku putuskan berdasarkan sunah rasulullah.” Nabi beratanya lagi, “jika tidak ada hukumnya dalam As-sunnah?” Ia menjawab, “aku akan berijtihad dengan pendapatku.” Lalu Muadz berkata: “kemudian Rasulullah saw menepuk dadaku dan berkata, “segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik pada utusan rasulNya, demi keridhaan allah dan RasulNya.

2.2.5 Hubungan Antara Hukum Qur’aany Dan Hukum Sunniyah

Ada tiga macam hubungan antara hukum dalam hadists dan hukaum dalam al-quran.

a.       Hukum-hukum yang serasi atau sesuai dengan hukum yang ada dalam al-quran, dalam hal ini hadists hanya berfungsi sebagai penguat atas hukum yang sudah ada dalam al-quran.

b.      Hukum-hukum yang menjelaskan apa yang ada dalam al-quran, dengan cara:

1)      Memerinci yang mujmal, seperti seperti amaliya Rasulullah tentang tata cara shalat dan sebagainya.

2)      Mentakhsis atau memberi perincian bagi hukum yang umum.

2.3 Ijtihad

2.3.1 Pengertian Ijtihad

Menurut bahasa, ijtihad berarti Al-jahd atau al-juhd yang berarti la-masyaqat (kesulitan dan kesusahan) dan akth-thaqat (kesanggupan dan kemampuan).

kata Ijtihad “pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit.” Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata “ijtihad” dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan. Ijtihad adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah, dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang dan pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama Islam.

Di  sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah “penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u ‘l-Lah dan Sunnah Rasul, baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma’qul nash), atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari’ah- yang terkenal dengan “mashlahat.”

Dalam kaitan pengertian ijtihad menurut istilah, ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas- yang mengemukakan rumusan definisi. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas.

Menurut mereka, ijtihad adalah pengerahan segenap kesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara’ (hukum Islam).

2.3.2 Tujuan dan Fungsi Ijtihad

Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu. Supaya dalam mengembangkan operasionalisasi ajaran islam sesuai dengan dasar asasinya. Khususnya hal-hal yang berkaitan dengan hukum, sehingga tidak selalu menggantungkan diri pada sabda Nabi saw yang ternyata tidak ditemukan, padahal situasi dan kondisi yang terus berubah menuntut sikap yang berbeda pula, supaya bisa mengistinbathkan hukum-hukum secara baik dan benar sesuai dengan yang dikehendaki oleh Syari’i itu sendiri dan agar hukum-hukum hasil istinbath itu tidak bersifat statis sehingga hasilnya selalu aktual  dan dapat diamalkan sesuai dengan perkembangan zaman yang selalu menuntutnya.

Ijtihad berfungsi sebagai salah satu alat penentu hukum segala persoalan baru karena adanya perubahan yang terus bergulir, sebagai sumber modernisasi hukum dalam islam sebagai pengejawentahan Islam rahmatan lil ‘alamin, sebagai salah satu system berfikir ilmiah yang islami, sebagai salah satu penopang budi daya kreativitas manusia. Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detil oleh Al Quran maupun Al Hadist. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalam melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari. Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist. Sekiranya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist, pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist.

Seperti itulah fungsi ijtihad sebagai salah satu alat penggerak, sebab tanpa ijtihad sumber hukum islam akan menjadi stagnan dan statis. Maka dengan menempatkan ijtihad pada posisi yang sebenarnya, hukum islam akan tetap memancarkan sinar kemanfaatannya yang tak akan bisa ditemui pada aturan hukum keagamaan lainnya.

2.3.3 Klasifikasi Ijtihad

a.       Al-Ijtihad al-Bayaniy yaitu menjelaskan hukum syara’ yang berdasarkan kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits dalam suatu perkara yang terjadi. Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati. Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.

b.      Al-Ijtihad al-Qiyasi yaitu menggali hukum syara’ karena adanya suatu kasus baru yang kepastian ketentuan hukumnya tidak ada dalam nash. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teori qiyas/analogis. Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalah sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. Dalam Islam, Qiyas sifatnya darurat, bila memang terdapat hal hal yang ternyata belum ditetapkan pada masa-masa sebelumnya

c.       Al-Ijtihad al-Istishlahy, beberapa definisinya adalah fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih) hanya karena dia merasa hal itu adalah benar, argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya, mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk maslahat orang banyak, tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan dan tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada sebelumnya.

2.3.4 Objek Ijtihad

Objek ijtihad adalah hukum syara’ yang bersifat ‘amaliyah yang tidak ditemukan nash qath’i (al-Qur’an dan Hadits) di dalamnya (al-hukmu asy-syar’iy al-‘amaly laisa fihi dalilun qath’iy). Terlepas masalah itu bersifat ‘Ubudiyah , Furuiyyah atau Ta’aqqudiyah selagi tidak adanya nash qath’iyud dilalah (yang benar-benar menunjukkan pada status dalam syara’)  maka itu adalah medan lahan seorang mujtahid dengan berbagai penguasaan disiplin ilmu guna menghasilkan natijah ijtihad yang diharapkan benar sesuai dengan Syaari’.

2.4 I J M A ’

2.4.1 Definisi Ijma’

Menurut bahasa, ijma’ mempunyai dua arti, yaitu :

a.       Kesepakatan

b.      Kebulatan tekad atau niat.

Dari memperhatikan definisi diatas, maka fahamlah kita bahwa tidak dinamakan ijma’ jika tidak terdapat padanya. Unsur-unsur berikut ini:

a.       Kesepakatan para mujtahid.

b.      Ijma’ harus merupakan hasil kesepakatan seluruh mujtahid

c.       Hendaknya kesepakatan itu berasal dari seluruh kesepakatan mujtahid yang ada pada masa terjadinya masalah fiqhiyah dan pembahasan hukumnya itu

d.      Kesepakan para mujtahid itu hendaknya harus terjadi sesudah wafat rosulullah saw.

e.       Kesepakan itu hendaknya dinyatakan masing-masing mujtahid dengan terang dan tegas pada suatu waktu.

f.       Hendaknya kesepakan para mujtahid diatas satu pendapat itu, benar-benar sepakat lahir dan batin, bukan formalnya saja. Betul-betul terjadi kebulatan pendapat atau suatu hukum.

2.4.2 Ijma’ Mayoritas

Jumhur ulama berpendapat bahwa ijma’ tidak terjadi, jika kessepakatan itu oleh mayoritas mujtahid saja, tetapi suara minoritasnya menantang. Hal ini disebabkan karena dalil-dalil yang kuat bagi kehujjan ijma’ adalah untukmemelihara ummat seluruhnya, bukan untuk sebagian besarnya saja.

Ibnu jarir ath-Thabariy, abu bakar ar-razi, abul husain al-khayyatiy dari kalangan ulama mu’tazilah dan ahmad bin hambal dalam salah satu riwayatnya berpendapat bahwa ijma’ dapat terjadi dengan suara mayoritas dapat dijadikan hujah, tetapi tidak dinamakan ijma’.

2.4.3 Ijma Mujtahid Madinah

Imam malik menganggap ijma’ terhadap kesepakatan para mujtahid madinah dari kalangan sahabat saja.  Berdasarkan hadis Rosulullah saw:

Artinya: “sesungguhnya (mujtahid) madinah itu seperti dapur tukang besi, yang dapat menghilangkan kotoran dan karatnya.

Hadis ini menurut beliau menunjukkan bahwa pendapat mujtahid benar tidak mengandung kesalahan. Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak bisa terjadi ijma’ dengan kesepakatan mujahid Madinah saja. Sebab mereka adalah seperti mujtahid-mujtahid dari kota islam lainnya. Sedangkan hadist diatas, hanya menunjukkan keberkatan madinah, tidak menunjukkan kemaksuman penduduknya.

2.4.4 Ijma’ Ahlul Bait

Ahlul Bait adalah semua orang yang mempunyai hubungan kerabat dengan nabi saw.

Ulama syi’ah berpendapat bahwa ijma’ dapat terjadi dengan adanya kesepakatan keluarga nabi saw. Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak bisa terjadi ijma’ dengan kesepakatan ahli bait saja. Sebab, mereka tidaklah terpelihara dari kesalahan.

2.4.5 Ijma’ Sukuti

Ijma’ dimana masing-masing mujtahid yang berkumpul menyatakan pendapatnya dengan terang dan jelas di sebut ijma’ sharih (ijma’ secara terang-terangan), karena masing-masing mujtahid mengemukakan pendapatnya dengan terang. Ijma’ demikianlah yang diakui kebenarannya oleh jumhur ulama

2.4.6 Ijma’ Murakkab

Jumhur ulama menyatakan bahwa dalil ijthiad pada suatu masa apabila mereka terbagi menjadi dua golongan besar dalam masalah hukum islam, dimana masing-masingnya mempunyai pendapat yang berbeda satu sama lain. Maka, bagi orang yang datang sesudahnya tidak boleh mendatangkan hukum baru yang merupakan hasil ijtihadnya, yang bertentanggan dengan pendapat kedua golongan yang mendahuluinya.

2.4.7 Kemungkinan Terjadinya Ijma’

Ulama Mu’tazilah dan Syiah berpendapat bahwa ijma’ dalam bentuk yang dikemukakan oleh jumhur ulama, tidak mungkin terjadi secara adat kebiasaan. Alasan mereka adalah sebagai berikut:

a.       Bahwa untuk mengetahui kriteria mujtahid adalah sangat sulit. Sebab, tidak adanya ukuran yang di sepakati untuk membedakan antara mujtahid dan yang bukan mujtahid.

b.      Bahwa para mujtahid berserakan tempatnya di berbagai negara dan benua yang berjauhan.

c.       Bahwa ijma’ tidak diperlukan kecuali jika, tidak ada dalil qath’i. artinya bahwa ijma’ itu tidak ada melainkan dari dalil yang dhoni.

Jumhur ulama berpendapat bahwa ijma’ itu mungkin terwujud dan terjadinya, dengan alasan bahwa hal itu secara realiatas pernah terjadi.

2.4.8 Kehujjahan ijma’

Jumhur ulama berpendapat bahwa ijma’ adalah merupakan hujjah yang wajib diamalkan. Semntara itu An Nadhdham. Sebagian ulama Khawarid dan Syi’ah tidak mengakui kehujjahannya.

Dalil-dalil yang mndukung pndapat jumhur adalah:

firman ALLAH :

Artinya: dan barang siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah di kuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam….”(An-Nisa’ : 115)

2.4.9 Menyandarkan Ijma’ Kepada Qiyas Atau Kepada Maslahat

Para ulama berselisih pendapat tentang bolehnya menyandarkan ijma’ kepada qiyas. Sebagian mereka berpendapat bahwa tidak ada kemaslahatan sama sekali menyandarkan ijma’ kepada qiyas sebab, kehujjahan qiyas tidak disepakati para ulama.

Sebagian ulama telah mengemukakan sebagian contoh ijma’ yang ditegakkan diatas masalahah mursalah, yaitu ijma’ sahabat tentang pengumpulan al-Quran dalam satu mushaf, sesudah Abu Bakar meragukan hal itu.

Dari memperhatikan keterangan diatas maka dapat difahamkan bahwa kesepakatan mereka menghimpun al-Quran adalah berdasarkan masalahat yang telah dijelaskan oleh Umar ra.

2.4.10 Penaskhan Ijma’

Apabila terjadi ijma’ pada suatu masa, maka tidak boleh di batalkan dan dihapus oleh orang-orang yang telah berijma’ kepadanya itu sebab ijma’ mereka yang pertama menjadi hujjah syariah qath’iah, yang wajib mereka amalkan. Dan sebaliknya, tidak boleh mereka langgar.

Pendapat ulama bahwa ijma’ itu terjadi karena suatu kesepakatan para mujtahid dalam masa hidup mereka, bukan ketika mereka sudah mati, namun sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa boleh para mujtahid membetulkan pendapatnya yang telah lalu, jika menurut mereka pendapatnya yang lalu itu terdapat kesalahan.

Dan telah jelas pndapat yang tidak membolehkan perubahan hukum yang telah di ijma’I adalah jika ijma’ itu disandarkan kepada kitab al-Quran, sunnah dan qiyas.

2.5 QIYAS

2.5.1 Pengetian Qiyas

Menurut bahasa, Qiyas berarti ” Menyamakan ” sedangkan menurut istilah arti ushul, Qiyas adalah menyamakan hukum dengan perkara lain yang sudah ditetapkan oleh nash.

Qiyas ,sebagaimana yang diamalkan oleh para mujahid adalah mengubungkan hukum suatu perkara dengan hukum perkara yang sudah ditetapkan. sebernarnya pengertian Qiyas syar’i diatas di ambil dan pengertian bahasanya.

Perbedaan di antara dua definisi diatas adalah :

  1. Qiyas pertama merupakan hujj’ah kohiyah yang datang dari sisi Allah SWT untuk mengatahui hukum – hukum yang bukan merupakan yang didatangkan bagi seseorang ( Sulamasul wusul juz IV hal ,2 )
  2. Qiyas yang kedua , ini menegaskan makna Qiyas secara majazi yang merupakan amalan para mujahid. yang di tegaskan untuk mengistimnathkan hukum syara’.

Bedasarkan keterangan diatas maka sebgaian ulama mengatakn bahwa Qiyas itu adalah mengeluarkan hukunl bukan menetapkan hukum.

2.5.2 Rukun – Rukun Qiyas

Dari pengertian difinisi Qiyas di atas, makadapat diartikan Qiyas itu harus terdiri dari empat perkara, yang sekaligus merupakan hukum – hukumnya.

  1. Perkara yang di pakau perbandingan ( persarnaan) yang di sebut ashal (perkara pokok yang terdapat hukumnya dalam nash)
  2. Perkara yang hendak dibandingkan (disamakan) yang disebut furu’ (perkara yang belum ada hukumnya dalam nash.)
  3. Hukum ashat yang hendak menjelaskan persamaan anatara Furu’ perkara Ashal.
  4. Illat yang dipakai dasar penetapan hukum pada perkara ashal dan menyadarkan Furu’ padanya, yang disebut jami’ (Letak persamaan).

Contoh kongkritnya : Allah SWT mengaramkan Khomer dalam Al Qur’an, meufut madzab Hanafi kliomer adaiah perasaan anggur yang dimasak ,tapi sampai lama ,sehingga keluar buihnya.

Ayat – ayat Al Qur’an

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk.perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”.

“Nabidz” bukanlah anggur, baik dari jenis korma atau gandum dan sebagainya. Memperhatikan ayat di atas, maka nabidz ada ketentuannya tentang halal dan haramnya. Tetapi para ahli ijtihad menghukumi haram dengan cara mengqiyaskan kepada khamer, karena adanya persamaan illat yang ada pada keduanya, yaitu memabukkan.

2.5.3 Dalil – Dalil Kehijjatan Qiyas

  1. Bahwa Syari’at islam datang untuk mengatur kehidupan manusia memelihara hubungan mereka secara khusus maupun yang umum di antara individu masyarakat.
  2. Bahwa Al Qur’an telah mempergunakan Qiyas dalam mencakumkan dan menetapkan hujjah serta menjelaskan berbagai hukum dan menetapkan jika sama ,dan menghilangkan jika berbeda.
  3. Bahwa Al Qur’an telah banyak menyuruh manusia untuk mengambil pelajaran berbagai peristiwa.

2.5.4 Keraguan – Raguan Penolakan Qiyas

An – nadhdham dari Mu’tazilali, Ahluldh – Dhahir dan golongan umat syari’ah berpendapat bahwa Qiyas tidaklah termasuk hujjah dalam syari’at islam. Dasar mereka adalah :

  1. Bahwa Qiyas dalam syari’at doperluakan sebab tidak ada tempat padanya. ini tercantum daiam ayat Al Qur’an

Artinya : “ Dia-lah dzat yang menciptakan apa saja yang ada di bumi, untuk kamu.”

Dalam ayat ini tidak  ada tempat bagi qiyas.

Pendapat yang menyatakan bahwa nash-nash Al_qur’an tidak mendatngkan hokum setiap perkara adalah pendapat yang bertentangan dengan firman Allah.

  1. Bahwa Qiyas ditegakkan diatas dhon pada kejelasan Illat hukum, maka ditetapkan hukum yang dhoni yang artinya tidak berguna sama sekaii.
  2. Bahwa para sahabat mengingkari Qiyas dalam syari’at Islam.
  3. Bahwa Qiyas mengakibatkan perselisihan antara mujahid.

2.5.5 Syarat – syarat Qiyas

  1. Syarat Qiyas Ashat yang ditetapkan oleh Al Qur’an ,seperti keharaman khomer.
  2. Syarat Furu’
  3. Syarat Illat

2.5.6 Tempat belakunya Qiyas

Sebagaian ulama ,diantaranya Imam Asg – Syafi’I berpendapat bahwa Qiyas berlaku pada semua hukum Syari’at terkecuali masalah ibadah karena tidak sah menciptakan ibadah dengan cara menqiyaskan pada ibadah yang sudah ada ketetapannya.

DAFTAR PUSTAKA

Syukur, Syarmin. 1993. Sumber-sumber Hukum Islam. Surabaya: “AL-IKHLAS”

Abdullah, Sulaiman. 1995. Sumber Hukum Islam. Jakarta: Sinar Grafika.

I.Doi, Abdur Rahman. 1993. Shari’ah Kodifikasi Hukum Islam. Jakarta: Rineka   Cipta.

Oktober 28, 2010

makalah ISBD

Filed under: MaKaLaH — ienn4 @ 7:19 am

MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN

(Disusun Guna Memenuhi Tugas Matakuliah ISBD)

Oleh

Kelompok 4

Fidian Nurul H.           (070210193106)

Rumsiah                      (070210193146)

Inayatul Maula            (070210193147)

UNIVERSITAS JEMBER

2010

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan  karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ilmu sosial budaya ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah banyak mebantu demi terlaksananya kegiatan ini dan piahk-pihak yang telah banyak membantu terselesaikannya makalah, antara lain :

1.      Ibu Khutobah selaku dosen mata kuliah Ilmu Sosial Budaya.

2.      Teman – teman anggota kelompok.

Akhirnya penulis menyadari bahwa makalah ini masih perlu penyempurnaan, sehingga saran dan kritik pembaca sangat kami harapkan.

Jember, 01 Oktober 2010

Penulis

MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN

1. Makna Keragaman Dan Kesederajatan

1.1 Makna Keragaman

Keragaman berasal dari kata ragam yang menurut kamus besar bahasa Indonesia  artinya:

a.       Tingkah laku

b.      Macam, jenis

c.       Lagu, music langgam

d.      Warna, corak, ragi

e.       Laras (tata baahasa)

Sehingga keragman berarti perihal beragam-ragam, berjenis-jenis perihl ragam, hal jenis. Kergaman yang dimaksud disini adalah suatu kondisi dalam berbagai bidang, terutama suku bangsa dan ras, agama dan keyakinan, ideology, adat kesopanan serta situsi ekonomi.

1.2 Makna Kesederajatan

Kesederajatan berasal dari kata sederajat yang menurut KBBI artinya adalah sama tingkatan (pangkat, kedudukan). Dengan demikian kontek kesederajatn disini adalah suatu kondisi dimana dalam perbedaan dan keragaman yang ada manusia tetap memiliki satu kedudukaaan yang sama dan satu tingkatan hierarki.

2. Unsur-Unsur Keragaman Dalam Masyarakat Indonesia

2.1 Suku Bangsa dan Ras

Suku bangsa yang menempati wilayah Indonesia dari sabang sampai merauke sangat beragam. Sedangkan perbedaan ras muncul karna adanya pengelompokan besar manusia yang memiliki cirri-ciri biologis lahiriah yang sama seperti rambut, warna kulit, ukuran-ukuran tubuh, mata, ukuran kepala daan lain sebagainya.

Di Indonesia, terutama bagian barat mulai dari Sulawesi adalah termasuk ras Mongoloid Melayu Muda. Kecuali Batak dan Toraja yang termasuk Mongoloid Melayu tua. Sebelah timur Indonesia termasuk ras austroloid, termasuk bagian NTT. Sedangkan kelompok terbesar yang tidak termasuk kelompok pribumi adalah golongan Chia yang termasuk astratic Mongoloid.

2.2 Agama dan Keyakinan

Agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan yang dimaksud berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari maanusia sebagai kekuatan ghaib yang tak dapat ditangkap dengan panca indra. Namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari.

Agama sebagai bentuk keyakinan memang sulit diukur secara tepat dan terinci namun apapun bentuk kepercayaan yang dianggap sebagai agama, tampaknya memang memiliki ciri umum yang hampir sama, baik dalam agama primitive maupun agama monotheisme.

Masalah agama tak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Dalam praktiknya fungsi agama antara lain:

a.       Berfungsi edukatif: ajaran agama secara yuridis berfungsi menyuruh dan melarang

b.      Berfungsi penyelamat

c.       Berfungsi sebagai perdamaian

d.      Berfungsi sebagai social control

e.       Berfungsi sebagai pemupuk rasa solidaritas

f.       Berfungsi transformative

g.      Berfungsi kreatif

h.      Berfungsi sublimatif

Pada dasarnya agama dan keyakinan merupakan unsure penting dalam keragaman bangsa Indonesia. Hal ini terlihat dari banyakny agama yang diakui di Indonesia.

2.3 Ideologi dan Politik

Ideologi adalah suatu istilah umum bagi sebuah gagasan yang berpengaruh kuat terhadap tingkah laku dalam situasi khusus karena merupaka kaitan antara tindakan dan kepercayaan yang fundamental. Ideology membantu untuk lebih memperkuat lndasan moral bagi sebuah tindakan. Politik mencxakup baik konflik antara individu dan kelompok untuk memperoleh kekuasaan yang digunakan oleh pemenang bagi keuntungannya sendiri atas kerugian dari yang ditaklukkan. Politik juga bermakna usaha untuk menegakkan ketertiban sosial.

Keragaman masyarakat Indonesia dan politik dapat dilihat dari banyaknya partai politik sejak berakhirnya orde lama. Meskipun pada dasarnya  Indonesia hanya mengakui satu ideology yaitu pancasila yang benar-benar mencermin kepribadian bangsa Indonesia.

2.4 Tata Krama

Tata krama yang dianggap dari Bahasa Jawa yang berarti “ adat sopan santun, basa-basi” pada dasarnya ialah segala tindakan, perilaku adat istiadat tegur sapa ucap dan cakap sesuai kaidah atau norma tertentu.

Tata karma dibentuk dan dikembngkan oleh masyarakat dan terdiri dari aturan-aturan yang kalau dipatuhi diharapkan akan tercipta interaksi sosial yang tertib dan efektif didalam masyarakat yang bersaangkutan. Indonesia memiliki beragam suku bangsa dimana setiap suku bangsa memiliki adat tersendiri meskipun karena adanya sosialisasi nilai-nilai dan norma secara turun temurun dan berkesinambungan dari generasi kegenerasi menyebabkn suatu masyarakat yang ada dalam suatu suku bangsa yang sama akan memiliki adat dan kesopann yang relatif sama.

2.5 Kesenjangan ekonomi

Bagi sebagian Negara berkembang perekonomian akan menjadi salah satu perhatian yang terus ditingkatkan. Namun umumnya, masyarakat kita berada digolongan tingkt ekonomi menengah ke bawah. Hal ini tentu saja menjadi sebuah pemicu adanya kesenjangaan yang tak dapat terhindari lagi.

2.6 Kesenjangan Sosial

Masayarakat Indonesia merupakan masyarakaaat yang majemuk dengan bermacam tingkat, pangkt dan strata sosial yang hierarkis. Hal ini, dapaaat terlihat dan dirasakan dengan jelas dengan adanya penggolongan orang berdasarkan kasta.

Hal ini yang dapat menimbulkan kesenjangan sosial yang tidak saja menyakitkan, namun juga membahayakan bagi kerukunan masyarakat. Tak hanya itu bahkan bisa menjadi sebuah pemicu perang antar etnis atau suku.

3. Pengaruh keragaman terhadap kehidupan beragama, bermasyarakat, bernegara, dan kehidupan global.

Berdirinya Negara Indonesia dilatarbelakangi oleh masyarakat yang demikian majemuk, baik secara etnis, geografis, cultural, maupun religius. Kita tidak dapat mengingkari sifat pluralistic bangsa kita. Sehingga kita perlu member tempaat bagi berkembangnya kebudayaan suku bangsa dan kebudayaan beragama yang dianut oleh warg negar indonesi. Masalah  suku bangsaa dan kesatuan- kesatuan nasional di Indonesia telah menunjukkan kepada kita bahwa suatu Negara yang multietnik memerlukan suatu kebudayaan nasional untuk menginfentasikaan peranan identitas nasional dan solidaritas nasional di antara warganya. Gaagasan tentang kebudayaan nasional Indosia yang menyaangkut kesadaran dan identitas sebagai suatu bangsa telah dirancang saat bangsa kita  belum merdeka.

Manusia secara kodrat diciptakan sebagai makhluk yang mengangkat nilai harmoni. Perbedaan yang mewujud baik secara fisik ataupun mental, sebenarnya merupakan kehendaak Tuhan yang seharusnya dijadikan sebagai sebuah potensi untuk menciptakan sebuah kehidupan yang menjunjung tinggi toleransi. Di kehidupan sehari-hari, kebudayaaan suku bangsa dan kebudayaan agama, bersama-sama dengan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara , mewarisi perilaku dan kegiatan kita. Berbagai kebudayaan itu beriringan, saling melengkapi bahkan mampu untuk saling menyesuaikan (fleksibel) dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi sering kali terjadi malah sebaliknya. Perbedaan-perbedaan tersebut menciptakan ketegangan hubungan antar anggota masyarakat. Hal ini disebabkan oleh sifat dasar yang selalu dimiliki oleh masyarakat majemuk sebagai mana dijelaskan oleh Van De berghe:

a.       Terjadinya sekmentasi kedalam kelompok-kelompok yang sering kali memiliki kebudayaan yang berbeda

b.      Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi kedalam lembaga-lembaga yang bersifat non komplementer

c.       Kurang mengembangkan konsensus diantara para anggota masyarakat tentang nilai-nili sosial yang bersifat dasar

d.      Secara relative seringkali terjadi konflik diantara kelompok yang satu dengan yang lainnya

e.       Secara relative integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan didal;am bidang ekonomi

f.       Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain.

Realitas diatas harus diakui dengan sikap terbuka, logis, dan dewasa karena dengannya, kemajemukan yng ada dapat dipertumpul. Jika keterbukaan dan kedewasaan sikap di kesampingkan, besar kemungkinan tercipta masalah-masalah yang menggoyahkan persatuan dan kesatuan bangsa. Seperti:

a.       Disharmonisasi, adalh tidak adanya penyesuaian atas keragaman antara manusia dengan dunia lingkungannya. Disharmonisasi dibawah oleh virus paradox yang ada dlam globalisasi. Paket globalisasi begitu memikat masyarakat dunia dengan tawarannya akan keseragaman global untuk maju bersama dalam komunikasi gaya hidup manusia yang bebas dan harmonis dalam tatanan dunia, dengan menyampaikan keunikan dan keberagaman manusia sebagai pelaku utamanya.

b.      Perilaku diskriminatif terhadap etnis atau kelompok masyarakat tertentu akan memunculkan masalah yang lain, yaitu kesenjangan dalam berbagai bidang yang tentu saja tidak menguntungkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

c.       Eksklusivisme, rasialis, bersumber dari superioritas diri, alasannya dapat bermacam – macam, antara lain; keyakinannya bahwa secara kodrati ras/ sukunya kelompoknya lebih tinggi dari ras/ suku/ kelompok lain.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperkecil masalah yang diakibatkan oleh pengaruh negative dari keragaman, yaitu:

a.       Semngat religious

b.      Semangat nasionalisme

c.       Semangat pluralism

d.      Semangat humanism

e.       Dialog antar- umat beragama

f.       Membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi hubungan antar agama, media massa, dan harmonisasi dunia.

Keterbukaan, kedewasaan sikap, pemikiran global yang bersifat inklusif, serta kesadaran kebersamaan dalam mengarungi sejarah, merupakan modal yang sangat menentukan bagi terwujudnya sebuah bangs yang Bhineka Tunggal Ika.menyatu dalm keragaman, dan beragam dalam kesatuan. Segala bentuk kesenjangan didekatkan, segala keanekargaman dipandang sebagai kekayaan bangsa, milik bersama. Sikap inilah yang perlu dikembangkan dalam pola piker masyarakat untuk menuju Indonesia raya merdeka.

4. Problematika Diskriminasi

Diskriminasi adalah setiap tindakan yang melakukan pembedaan terhadap seseorang atau sekelompok orang berdasarkan ras, agama, suku, etnis, kelompok, golongan, status, dan kelas sosial ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik tubuh, usia, orientasi seksual, pandangan ideology dan politik. Serta batas Negara, dan kebangsaan seseorang.

Tuntutan atas kesamaan hak bagi setiap manusia didasarkan pada prinsip – prinsip hak asasi manusia(HAM). Sifat dari HAM adalah universal dan tanpa pengecualian, tidak dapat dipisahkan, dan saling tergantung. Berangkat dari pemahaman tersebut seyogianya sikap – sikap yang didasarkan pada discrimination harus dipandang sebagai tindakan yang menghambat pengembangan kesederajatan dan demokrasi, penegakan hokum dalam kerangka pemajuan dan pemenuhan HAM.

Pasal 281 Ayat (2) UUD NKRI 1945 telah menegaskan bahwa:” setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif  atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu .” sementara itu Pasal 3 UU No.30 Tahun 1999 tentang HAM telah menegaskan bahwa”…….. setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat yang sama dan sederajat…..” ketentuan tersebut merupakan landasan hokum yang mendasari prinsip non- diskriminasi di Indonesia.

Pencantuman perinsip ini pada awal pasaal dan berbagai instrument hokum yang mengatur HAM pada dasarnya menunjukkan bahwa diskriminasi telah menjadi sebuah realitas yang problematik, sehingga:

a.       Komunitas internasional telah mengakui bahwa diskriminasi masih terjadi di berbagi belahan dunia; dan

b.      Prinsip nondiskriminasi harus mengawali kesepakatan antarbangsa untuk dapat hidup dalam kebebasan, keadilan, dan perdamaian.

Dalam demokrasi, diskriminasi seharusnya telah ditiadakan dengan adanya kesetaraan dalam bidang hokum, kesederajatan dalam perlakuan adalah salah satu wujud ideal dalam kehidupan Negara yang demokratis. Akan tetapi, berbgai penelitian dan pengkajian menunjukkan bahwa kondisi di Indonesia saat ini belum mencerminkan penerapan asas persamaan dimuka hokum secara utuh.

Pada dasarnya diskriminasi tidakterjadi begitu saja, akan tetapi karena adanya beberapa factor penyebab, antara lain:

a.       Persaingan yang semakin ketat dalm berbagai bidang kehidupan, terutama ekonomi. Timbullah persaingan antar kelompok pendatang dan kelompok pribumi, yang kerap kali menjadi awal pemicu terjadinya diskriminasi.

b.      Tekanan dan intimidasi biasanya dilakukan oleh kelompok yang dominan terhadap kelompok atau golongan yang lebih lemah. Aristoteles membagi masyarakat dalam suatu Negara menjadi tiga kelompok – kelompok: kaya, miskin, dan yang beradadiantaranya. Kelompok – kelompok kaya (bangsawan, tuan tanah) biasanya melakukan intimidasi dan tekanan sehingga mendiskriminasikan orang – orang miskin.

c.       Ketidak berdayaan golongan miskin akan intiminasi yang mereka dapatkan membuat mereka terus terpuruk dan menjadi korban diskriminasi.

Problematika lainnya dan harus diwaspadai adanya disintegrasi bangsa dan bubarnya sebuah Negara, dapat disimpulkan adanya enam faktor utama yang secara gradual bisa menjadi penyebab utama prose itu, yaitu:

a.     Kegagalan kepemimpinan

Integrasi bangs adalah landasan bagi tegaknya sebuah Negara modern. Keutuhan wilayah Negara amat ditentukan oleh kemampuan parapemimpin dan masyarakat warga Negara memelihara komitmen kebersamaan sebagai suatu bangsa.

b.    Krisis ekonomi yang akut dan berlangsung lama

Krisis disektor ini selalu merupakan amat signifikan dalam mengawali lahirnya krisis lain (politik pemerintahan, hokum, dan sosial).

c.     Krisis politik

Krisis politik merupakan perpecahan elit di tingkat nasional, sehingga menyulitkan lahirnya kebijakan utuh dalam mengatasi krisis ekonomi. Krisis politik juga dapat dilihat dari absennya kepemimpinan politik yang mampu membangun solidaritas sosial untuk secara solid menghadapi krisis ekonomi. Semua ini efektif, maka kemampuan pemarintah dalam member pelayanan public akan makin merosot.

d.    Krisis sosial

Krisis sosial dimulai dari adanya disharmoni dan bermuara pada meletusnya konflik kekerasan diantara kelompok – kelompok masyarakat (suku, agama, ras).

e.     Demoralisasi tentara dan polisi

Demoralisasi tentara dan polisi dalam  bentuk pupusnya keyakinan mereka atas makna pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai bayangkari Negara. Demoralilasi itu, pada kadar yang rendah dipengaruhi oleh merosotnya nilai gaji yang mereka terima akibat krisis ekonomi.

f.     Interfensi asing

Interfensi internasional yang bertujuan memecah belah, seraya mengambil keuntungan dari perpecahan itu melalui dominasi pengaruhnya terhadap kebijakan politik dan ekonomi Negara-negara baru pasca disintegrasi. Interfensi itu bergerak dari yang paling lunak hingga berupa provokasi terhadap kelompok-kelompok yang berkonflik.

Salah satu hal yang dapat dijadikan solusi adalah Bhineka Tunggal Ika yang merupakan ungkapan yang menggambarkan masyarakat Indonesia yang “majemuk”atau “heterogen”. Masyarakat Indonesia terwujud sebagai hasil interaksi social dari banyak suku bangsa dengan beraneka ragam latar belakang, kebudayaan, agama, sejarah dan tujuan yang sama yang disebut kebudayaan nasional.

Terciptanya “Tunggal Ika”dalam masyarakat yang ”Bhineka” dapat diwujudkan melalui “ïntegrasi kebudayaan” atau “integrasi nasional”. Dalam hubungan ini, pengukuhan ide “Tunggal Ika” yang dirumuskan dalam wawasan nusantara dengan menekankan pada aspek persatuan disegala bidang merupakan tindakan yang positif. Namun tentu saja makna Bhineka Tunggal Ika ini harus benar-benar dipahami dan menjadi  dalam bangsa dan bernegara.

Manusia Beradab dalam keragaman

Hubungan antara kebudayaan dengan peradaban adalah sangat erat. Peradapan adalah salah satu perwujudan kebudayaan yang bernilai tinggi, indah dan harmonis yang mencerminkan tingkat kebudayaan masyarakat yang bersangkutan, misalnya adab, sopan santun, budi pekerti, budi bahasa, seni dan sebagainya.

Masyarakat sebagai satu komunitas yang beragam penuh perbedaan pandangan bahkan kepentingan, tuhan yang menciptakan manusia dalam keragamannya, dalam realitas kehidupan keragaman telah meluas dalam wujud perbedaan status, kondisi ekonomi, relasi, social dan sampai cita-cita perorangan maupun kelompok tanpa dilandasi sikap arif dalam memandang perbedaan akan menuai konsentrasi panjang berupa konflik bahkan kekerasan di tengah-tengah kita.

Dalam hal ini tedapat teori menunjukan penyebab konflik ditengah masyarakat antara lain:

a.       teori hubungan masyarakat memiliki pandangan bahwa konflik yang sering muncul ditengah masyarakat disebabkan polarisasi yang terus terjadi, ketidak percayaan dan permusuhan diantara kelompok yang berbeda.

b.      Teori identitas yang melihat bahwa konflik yang mengeras dimasyarakat tidak lain disebabkan identitas yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaaan masa lalu yang tidak terselesaikan.

c.       Teori kesalahpahaman antar budaya, teori ini melihat konflik di sebabkan ketidak cocokan dalam cara-cara berkomunikasi diantara budaya yang berbeda.

d.      Teori tranformasi yang memfokuskan pada penyebab terjadinya konflik adalah ketidak kesetaraan dan ketidak adilan yang muncul sebagai masalah sosial budaya dan ekonomi.

Realitas keragaman budaya bangsa ini tentu membawa konsekuensi munculnya persoalan gesekan antar budaya, yang mempengaruhi dinamika kehidupan masyarakat, oleh sebab itu manusia yang beradab harus bersikap terbuka dalam melihat semua perbedaan dalam keragaman yang ada, menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan tidak menjadikan keragaman sebagai kekayaan bangsa, alat pengikat persatuan seluruh masyarakat dalam kebudayaan yang beranekaragam.

Faktor-Faktor Terjadinya Perubahan Social – Budaya

Factor-faktor pendorong yang menyebabkan terjadinya perubahan social ada 2 macam, yaitu yang berasal dari luar masyarakat dan dari dalam diri itu sendiri.

Factor yang berasal dari luar masyarakat

a.       Akulturasi.

Akulturasi atau cultural contact berarti suatu kebudayaan tertentu yang dihadapkan dengan unsure-unsur kebudayaan asing yang sedemikian rupa sehingga lambat laun unsure-unsur kebudayaan asing tersebut melebur atau menyatu kedalam kebudayaan sendiri, tetapi tidak menyebabkan hilangnya kepribadian.

b.      Difusi

Difusi ialah penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ketempat lain. Sedikit demi sedikit, hal ini berlangsung berkaitan dengan terjadinya perpindahan atau penyebaran manusia dari satu tempat ke tempat lain.

c.       Penetrasi

Penetrasi adalah masuknya unsur-unsur masuknya kebudayaan asing secara paksa, sehingga merusak kebudayaan bangsa yang di datangi penetrasi tersebut, dinamakan Penetration Violent, misalnya ketika bangsa Spanyol dan Portugis datamg ke Amerika Latin sehingga kebudayaan maya dan inka menjadi musnah. Selain itu masih ada jenis penetrasi lain yaitu masuknya unsur kebudayaan asing dengan tidak sengaja dan tanpa paksaan dalam kebudayaan setempat sehingga saling mempengaruhi, penetrasi semacam ini disebut Penetration Pasifique, seperti masuknya agama dan kebudayaan Hindu, Budha, Islam kedalam kebudayaan Indonesia.

d.      Invasi

Invasi yaitu masuknya unsur-unsur kebudayaan asing kedalam kebudayaan setempat dengan peperangan (Penaklukan) bangsa asing terhadap bangsa lain, penaklukan itu pada umumnya dilanjutkan dengan penjajahan, selama masa penjajahan itulah terjadi pemaksaan  masuknya unsur-unsur asing kedalam kebudayaan bangsa-bangsa terjajah.

e.       Asimilasi

Asimilasi kebalikan dari penetrasi. Asimilasi adalah proses penyesuaian seseorang atau kelompok orang asing terhadap kebudayaan setempat.

f.       Hibridisasi

Hibridisasi adalah perubahan kebudayaan yang disebabkan oleh perkawinan campuran antara orang asing dengan penduduk setempat. Hibridisasi umumnya bersifat individu, walaupun tidak menutup kemungkinan perubahan akibat perkawinan campuran meluas hingga ke lingkungan masyarakat sekelilingnya, akibat hibridisasi ialah munculnya kebudayaan baru, yaitu setengah kebudayaan asing dan setengah kebudayaan setempat.

g.      Milenarisasi

Milenarisasi merupakan salah satu bentuk gerakan kebangkitan, yang berusaha mengangkat golongan masyarakat bawah yang tertindas dan telah lama menderita dalam kedudukan sosial yang rendah dan memiliki ideologi sub kultural yang baru.

Perubahan yang Terjadi karena Pengaruh dari Dalam

a.       Sistem Pendidikan yang Maju

–          Inovasi adalah pembauran unsur teknologi dan ekonomi dari kebudayaan

–          Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat walaupun ide baru yang diciptakan oleh seseorang atau sekelomok orang dalam suatu masyarakat

–          Namun, adapula pendapat lain menyatakan bahwa discovery adalah penemuan sesuatu yang sebelumnya telah ada

–          Invention adalah pendapatan atau perolehan hal-hal baru yang dilakukan melalui usaha yang sungguh-sungguh walaupun melalui trial and error.

–          Enkulturasi atau pembudayaan ialah suatu proses manusia mempelajari dan menyesuaikan alam fikiran serta sikapnya dengan sistem norma ( meliputi norma susila, adat, hukum dan agama) yang hidup dalam masyarakat.

b.      Menghargai hasil karya orang lain

c.       Adanya keterbukaan di dalam masyarakat

d.      Adanya toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation)

e.       Penduduk yang heterogen

DAFTAR PUSTAKA

Setiadi, Elly M. dkk. 2005. Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar. Jakarta: Prenada Media Group



Oktober 27, 2010

foto Bali

Filed under: Uncategorized — ienn4 @ 4:04 am

BALURAN

bersama

pantai kuta

lburan

lg di kuta bali breng tmen2 bio 07

Blog di WordPress.com.